Friday, October 17, 2008

Komoditisasi pesan agama

Solo Pos, Edisi : Jum'at, 17 Oktober 2008 , Hal.4
Ketika agama diperdagangkan

Banyak iklan di TV yang menawarkan dimensi mistis, terkait dengan masa depan, karier maupun jodoh. Kebimbangan–atau mungkin tepatnya disebut tipisnya iman—manusia modern dijadikan acuan memasarkan ramalan, primbon ataupun “pandangan” masa depan.

Hal ini terasa sangat aneh, mengingat bangsa Indonesia adalah bangsa yang berketuhanan. Hal yang seharusnya menjadi tontonan, dianggap sebagi tuntunan, sebaliknya tuntunan yang semestinyapun dilupakan.
Memang, setiap manusia baik sebagai individu ataupun sebagai anggota kelompok masyarakat membutuhkan tata atur, rasa nyaman, dan keinginan untuk mendapatkan kebahagiaan. Tak pelak, celah inilah yang “diimingkan” oleh media dengan para tokoh peramalnya.
Manusia melupakan agama sebagai peneguhan akhir dari semua permasalahan, dan lebih memilih kenyamanan semu yang ditawarkan di dunia ini. Mereka lebih memilih kepentingan langsung yang berupa materi, di mana cara dipandang sebagai tujuan dan menempatkan kepalsuan menggantikan kebenaran.
Allah memperingatkan dalam surat Adh-Dhuha (93:4); “Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)”. Ayat ini sekaligus membimbing manusia untuk menjaga track kehidupan agar tidak melupakan tujuan akhirnya, yakni “kebahagiaan” dunia dan akhirat.
Permasalahan manusia modern saat ini—begitu juga di Indonesia, adalah kekeringan iman. Agama ditempatkan tidak lebih sebagai urusan spiritual belaka, yang menempati posisi sekunder. Lebih tragis lagi, agama dilambangkan ke dalam pernyataan skriptual, yang disimpulkan dalam sistem formal kelembagaan, melalui tarekat, ormas, majelis zikir, maupun institusi lain, yang dengannya urusan spiritualitas masyarakat bisa diwakilkan. Manusia modern sambil lalu menitipkan urusan agama pada agamawan, guru spiritual maupun pembimbing mental.
Kepercayaan instan
Peran agama dalam dunia modern diperdagangkan. Tak heran, banyak kalangan elite kenegaraan, para jenderal, artis, pebisnis sampai tokoh politik mempunyai guru-guru spiritual yang hanya dibutuhkan ketika urusan dunia mereka membutuhkan agama sebagai backup atas kejayaan mereka. Agama hanya ada ketika dibutuhkan dan dianggap sebagai perkara klenik belaka. Pesan agama menjadi timpang dalam dimensi mistisnya.
Benar bahwa dimensi tertinggi dalam agama adalah kepercayaan kepada hal gaib. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Baqarah (2:3); “Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib…”. Namun bukan berarti kepercayaan pada yang gaib ini bisa diartikan sebagai kekuatan yang sekonyong-konyong dapat diperlakukan untuk mendongkrak popularitas seseorang, melanggengkan jabatan ataupun mempermudah promosi. Kepercayaan instan semacam inilah yang kemudian mewabah pada fenomena menjamurnya rajah, tulisan-tulisan arab yang dianggap keramat (asma’), sampai pada cincin batu akik.
Kepercayaan dan kepekaan terhadap yang gaib ini menurut Fazlur Rahman dalam Major Themes of the Qur’an (1980) pada dasarnya berguna untuk melatih seseorang yang beragama untuk merasakan adanya kedekatan dan sekaligus pengawasan dari Tuhan.
Kepercayaan kepada yang gaib ini adalah kebenaran tertinggi yang akan membimbing manusia pada pemenuhan iman sejati. Sebagaimana dalam Alquran surat Al-Qaaf (50:33); “(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat”.
Kecenderungan seorang yang beragama terhadap yang gaib bukanlah berarti ketundukan dan kepasrahan kepada takdir, menyerah pada keadaan dan kesempatan serta perasaan tidak mampu untuk berusaha dan berkarya.
Iman juga tidak berarti kepercayaan pada hal-hak yang irasional, ia adalah perasaan yang akan mengantarkan seseorang pada pemahaman akan eksistensi Tuhan. Bukankah dalam kehidupan ini, dalam pengalamannya pun, manusia sering menjumpai hal-hal yang sulit diterima akal sehat biasa? Makna iman sesungguhnya adalah pengakuan atas keterbatasan kemampuan manusia, akal dan panca indera mereka.
Manusia adalah insan-insan sosial yang menyadari keterbatasan dirinya sendiri serta membutuhkan sesama dan kekuatan supranatural yaitu Allah. Ketidakmemadaian akal sehat biasa adalah hal yang niscaya, karena ia memang bertolak dari hal ihwal dan logika keseharian tentang apa yang dipandang wajar, lazim dan benar dan apa yang tidak.
Akal sehat biasa manusia akan sangat sulit menerima kebenaran yang belum pernah ia temui atau bayangkan seperti lazimnya ia berpikir. Kontradiksi paham dam pengalaman ini akan menyumbat kebermaknaan beragama manusia, menjadikan keberagamaan kering dan jauh dari penghayatan.
Untuk itu, manusia memerlukan cara pandang lain yang mampu mengatasi kontradiksi pemahaman kehidupan ini, yang apabila tidak terselesaikan maka akan mengganggu keimanan seseorang. Peter Berger menyebutnya dengan “struktur kebermaknaan” (plausibility structure) yaitu mengembalikan akar persoalan pada model tatanan yang dipercayai itu sendiri, yakni agama.
Agama dengan seperangkat metodologinya hadir untuk menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi pengalaman yang tidak bisa terselesaikan oleh kecanggihan akal manusia. Agama adalah penerang, Islam menyebut wahyunya—Alquran, sebagai Hudan yang bermakna sebagai petunjuk, tidak hanya pada hal-hal rasional, empiris tetapi melampaui semua pandangan serba terbatas akal dan panca indera manusia.
Begitu pengalaman manusia melampaui hal-hal keseharian yang umum dipahami dan diterima oleh akal dan panca indera mereka, maka orang pun memerlukan penjelasan metaforis yang berbicara tentang makna hakiki dan atau tujuan hidup.
Di sinilah sekali lagi hanya agama yang mampunyai jawabnya, sistem makna yang menjangkau seluruh keperluan manusia, tidak hanya untuk keperluan hari ini, di dunia ini, tetapi juga menjangkau harapan dan imajinasi kehidupan setelah hidup ini.
Agamalah yang menurut Clifortz Geertz mempunyai sistem makna yang tepat untuk manusia. Tidak pada ramalan, primbon apalagi terawangan yang dihasilkan oleh nalar manusia yang sangat terbatas.
- Oleh : Mustatho
Alumnus Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Pengurus Ponpes Al-Musthafa, Prambontergayang, Tuban

1 comment:

sam said...

agama jd brg dagangan? ini gagasan yg bgus. kawan, tulisan ini kritis terhadap zamannya.