Friday, January 22, 2016

INSPIRASI, PERJUANGAN, JODOH DAN KESUKSESAN

BUKU KEHIDUPAN

Kehidupan ibarat sebuah buku dengan lembar-lembaran yang ia miliki yang terintegrasi dengan sampul awal sebagai pembuka dan sampul akhir sebagai penutupnya; tebal tipisnya buku itu tidak menjadi ukuran kualitas dan keindahan buku tersebut. Berpulang kepada isi dan sistematika materi dalam tulisan yang ditorehkan oleh sang penulis. Bukankah anda justru “bosan”, “muyak” dan bored ketika membaca buku tebal tapi materi tulisan membingungkan?. Anda justru akan tidak senang ketika memiliki buku tebal namun tidak faham ide pokok tulisan dalam buku itu. Demikian juga dengan buku yang indah tapi tipis, disimpan seakan tidak menjadi “kebanggaan” dibaca tapi tidak dikenang. Pertanyaannya, seperti apa kemudian model buku yang diidamkan seseorang dimana tertulis namanya di dalam buku tersebut?. Mungkin jawabnya “khairul umuri awsatuha”.

Buku kehidupan ini bukan buku seperti buku-buku masa kini yang mudah dihapus sebagaimana tulisan yang diedit oleh komputerisasi masa modern saat ini, juga tidak seperti mesin ketik manual yang bisa dihapus dengan tipe ex. Jalannya kehidupan berjalan lurus dengan tanpa bisa kembali kepada apa yang telah terlalui. Hanya ada solusi bagaimana usaha untuk memperbaiki masa lalu dengan cara merubah perbuatan masa lalu dengan perbuatan yang lebih baik di masa depan dengan harapan masa depan bisa mengganti masa lalu dengan cara untuk “dimaafkan”. Prespektif agamanya disebut dengan taubatan nasuha.

Sampul kehidupan seorang manusia dimulai ketika ia dilahirkan. Masa pregnant (kehamilan) ibarat awal munculnya perencanaan ide penulis saat hendak mencetuskan gagasan buku yang bakal menjadi masterpiecenya. Sebuah buku dimulai dengan prolog prakata dari sang penulis, demikian juga dengan kehadiran seorang anak dimulai dengan berucap syukur serasa memberi nama dan berakikah untuk diperkenalkan dan dibanggakan bahwa “maha karya” telah tercipta. Bagaimana dengan anda, apakah anda anggap anak anda sebagai sebuah maha karya?. Yang harus dijaga dan diteruskan cita-cita pembuatannya sebaik itu juga menciptakan alur tulisannya?. “Kullu mauludin yuladu ‘alal fitrah”. Alih-alih menjaganya, orang sekarang menganggap anak seperti stand up yang “lebih seneng” ketika ditertawai banyak orang.... (jangan sampai)...

Masa dimana anak-anak bertumbuh untuk sosialisasi, anak-anak mempertanyakan semua yang ia lihat dan dengar. Orang tua zaman sekarang bertindak “bijak” untuk tidak menjawab semua pertanyaan anak-anak dengan lebih memilih menyalurkan rasa penasaran anak tersebut dengan memasukkannya ke lembaga pendidikan, hingga anak ada yang dipercayai yakni kepada gurunya. Tak heran seorang guru lebih dipercayai kata-kata dan jawabannya ketimbang orang tuanya sendiri.... tapi orang tua menjadi “kurang bijak” karena model terbaru orang tua lebih memilihkan seluruh waktu anak untuk dihabiskan dengan guru hingga anak tidak pernah bisa pembandingkan pendapat orang tua mereka dengan pendapat yang selalu ia dengar jawabannya dari guru mereka. Bagaimana anak-anak dituntut bisa patuh dengan orang tuanya ketika berpendapat pun tidak pernah????. Lembaga untuk menampung keengganan orang tua ini terkadang disebut “fullday schooll”, entah karena orang tua bekerja penuh waktu, sehingga kewajiban mendidik seharian dipanggulkan ke lembaga pendidikan tersebut?....mudah-mudahan alasan orang tua yang memilih fullday school tidak semata karena materi yang dikejarnya....amin

Zaman sewaktu anak-anak masih menjadi waktu anak-anak; keindahan lingkungan sosial anak, secara psikis menjadi anugar yang tidak tergantikan. Demikian juga sewatu kecil yang pernah penulis lalui, anak-anak adalah sewaktu dimana semua pertemanan diwujudkan untuk bereksplorasi bersama itu mencoba dan mengetahui secara langsung perihal hal ihwal yang kita temui.

--------------------------***--------------------------
Aku lahir dan menjadi anak keempat dari lima besaudara, semua pendidikan kuperoleh berimbang antara pendidikan dari lembaga sekolah, keluarga dan lingkungan. Lihatlah waktu itu, pagi untuk bersekolah, siang untuk bersama orang tua, sore hari untuk bermain bersama teman-teman sebaya dilingkungan pendidikan yang aku pilih sendiri dengan teman-teman kecil lainnya; bisa dengan media belajar dipematang sawah, bisa di sungai dengan mencari ikan, mencari burung bahkan dengan memelihara kambing dan mengajari diri bersama-sama mengurus dan memberi rasa sayang kepada hewab peliharaan.

Aku kini, Mustatho sudah menjadi seorang ayah untuk kedua puteriku Muna Habibah 4.5 tahun dan Mumtaza Rahma 1.5 tahun. Bersamaku hidup seorang isteri tercinta Dina Makhrita untuk mendidik anak bersama-sama. Meski zaman berbeda masa kanak-kanak tidaklah berbeda yang semestinya mereka lalui dengan riang dan tanpa beban semoga tetap mereka dapatkan. Amin...
Kehidupan yang berproses itu kulalui bukan tanpa aral ataupun tanpa perjuangan.... dalam menulis buku terkadang tidak sedikit hal sulit dilalui seroang penulis...pun Ibnu Malik (seorang pakar nahwu) ketika menuliskan alfiah pernah kesulitan meneruskan “nadzamat” dalam muqaddimah karyanya... demikian juga bait-bait dalam kehidupanku... namun justru karena kesulitan dan perjuangan itu seseorang bisa lebih menghargai makna kehidupan.

Dibesarkan dalam keluarga yang serba memberi kemudahan, -karena terlahir hanya 1 sebagai seorang anak laki-laki dengan 4 anak perempuan dalam keluargaku, bahkan bapak dan emakku yang sebenarnya orang kurang mampu pun menyekolahkankku tanpa pamrih sampai dengan jenjang Strata 2 (S2) “mudah-mudahan beliau disayangi sebagaimana menyayangiku sewaktu kecil Rabbi ighfirli waliwalidayya war hamhuma kama rabbayani shaghira”. Amin... setelah dengan ikhlas menyayangi, membesarkan dan mendidikku sampai dewasa; tibalah waktu seorang anak elang untuk tebang sendiri, memilih hidup, pasangan dan membikin sarang sendiri untuk keluarganya.... demikian juga diriku, pasca S2 di UIN Sunan Ampel Surabaya kemudian hijrah ke kalimantan tanggal 25 November 2008.

Memasuki tahun kedua semenjak hijrah ke kalimantan, akhir 2009 usiaku sudah memasuki usia matang untuk berkeluarga. Maka orang tuaku juga menfasilitasi dan mewartakan agar diriku segera membentuk keluarga, salah satu usaha bapak, emak adalah dengan memperkenalkan kepada calon-calon yang siapa tau berjodoh, bahkan bapak sendiri berujar “le nek golek bojo wong jowo wae” / anak lanangku kalau cari pasangan orang jawa ya... tapi setelah hampir satu tahun, pertiga bulannya mondar-mandir kalimantan-jawa-jawa-kalimantan, pada kesempatan itu tanggal 24 Mei 2010 tanggal dan bulan yang sama dengan saat aku lahir 24 mei 1981, ketika bapak hendak mengantarkanku balik ke kalimantan, bapak berujar “le awakmu mengko nikah malam 9” / kamu nanti nikah tanggal 29 Ramadhan. Yang kemudian aku tanyakan untuk mempertegas “nopo pak?”, “ora guyonan wae kok”, jawab bapak...

Semenjak saat itu aku pahami bahwa mencari jodoh bukan perkara mudah tapi juga belum terdefinisikan indikator kesulitannya. Namun ada semacam kepercayaan, berjodoh adalah ketika kita bertemu seseorang dan kita merasa “sreg” kepadanya diawal pertemuan“love is what you feel in the first meeting” karena pengalaman sebelumnya yang pernah kopi darat dengan calon-calon yang lain, baik yang dari Blitar, Lamongan, Mojokerto, Bojonegoro maupun dari Tuban sendiri. Kali ini aku bertemu dengan seorang perempuan dengan setting waktu pendaftaran mahasiswa STAI Sangatta Kutai Timur, perempuan ini menanyakan bagaimana ia bisa mendaftar sebagai mahasiswa STAIS, namun dengan semua jawaban “silahkan datang sendiri mendaftar ke Kampus”, dia bilang “tidak bisa naik motor”, “silahkan minta diantarkan cowoknya”, dia bilang “gak punya cowok”, “lah terus biasanya kemana-mana sapa siapa?”, dia jawab “biasanya dengan abah”. Oleh karena hal tersebut akhirnya aku sendiri yang mengalah “baiklah bisa ditemui dimana, biar bisa saya sampaikan langsung perihal syarat pendaftaran, dan seterusnya”... akhirnya aku temui si dia di Town Hall mini market K3PC, semenjak saat itu sekaligus aku berkenalan, namanya Dina Makhrita. Semenjak saat bertemu pertama dengannya langsung aku sendiri menawarkan diri “apakah aku cocok untuk menjadi cowoknya?”, namun dia memilih kalau aku serius agar bisa menemui abahnya....

Tanpa proses lama namun karena keseriusan dan kesungguhan hati untuk menjadikan dia sebagai isteri serta keyakinan bahwa jodoh itu ada pada dirinya, maka kutelepon Bapak di Jawa, “Pak kulo bade nikah”/ pak saya mau menikah, mohon lamarkan... jawaban Bapak “malem songo yo leh?”. Malam 29 Ramadhan ya nak?. “dek...baru teringat lagi, kata-kata bapak itu pernah diucapkannya 2 bulan yang lalu. Entah karena kuatnya firasat orang tua atau karena faktor lainnya...

----------------------------***----------------------------

Mustatho-Dina Makhrita menikah 22 September 2010 di KUA Sangatta Utara saat ini memiliki 2 Putera (Muna Habibah, Mumtaza Rahma) kini tinggal di JL. APT Pranoto Gg Wulan Blok C No 70. Semoga pernikahan kami sakinah mawadah wa rahma dikarunia anak yang salih-salihah keluarga menjadi keluarga yang hidup bahagia dunia dan akhiratnya “rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah”. Amin
Ditulis di Hotel Amaris Tamrin City Jakarta ruang 621 saat dimana mendapat tugas menghadiri putusan MK tentang Permohonan PHP Pilkada Kutai Timur tanggal 22 Januari 2016. Amar putusan: menerima eksepsi termohon KPU dan Pihak lain serta menolak permohonan dari Paslon Nomor urut 2 Ardiansyah Sulaiman-Alfian Aswad jam 00.23 WIB

Thursday, October 1, 2015

KHILAFIYAH KEPEMIMPINAN

KHILAFIYAH KEPEMIMPINAN DAN KEWAJIBAN MENSUKSESKAN PEMILUKADA
(Studi atas Kewajiban Memilih Pemimpin dan Tingkat Partisipasi Prespektif Fiqhiyah)
Oleh:
Mustatho’, S.H.I., M.Pd.I (Dosen Masail Fiqh STAI Sangatta)

Agama Islam adalah agama mayoritas yang dipeluk oleh penduduk di Indonesia. Tak pelak agama ini di setiap aspek kehidupan Umat Islam di Indonesia senantiasa memberi warna, apakah itu pada persoalan beribadatan seperti shalat, puasa, hari Raya bahkan sampai pada kriteria kepemimpinan, umat Islam senantiasa menimbang dan memperhatikan nilai-nilai agama yang mereka yakini kebenarannya. Lebih spesifik terkait pemilihan kepemimpinan, bisa dilihat dalam kasus pemilu presiden tahun 2000, dimana umat Islam Indonesia saat itu senter menimbang wacana “boleh dan tidaknya” pemimpin/ presiden dari wanita. Bahkan sebagian besar umat Islam meyakini tentang “Haramnya” Presiden Wanita, sehingga Pemilu presiden di Tahun 2000 tersebut dimenangkan “kaum laki-laki” yang sukses mempola keyakinan tentang pemimpin laki-laki lebih baik dibanding perempuan. Maka terpilihlah Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai presiden, meskipun pada akhirnya diturunkan di tengah jalan.

Islam, di sisi yang lain adalah agama Rahmatan lil ‘Alamin, artinya agama Islam hadir untuk menjadi rahmat (Kasih) kepada seluruh alam semesta. Dari aksioma ini, Islam semestinya menjadi jembatan bagaimana sebuah negara mampu berjalan dengan baik dengan nilai-nilai demokratis dan keadilan yang ada. Demikian juga pemeluk agama Islam; orang perseorangan dalam Islam disebut khalifah (wakil Allah) di dunia, yang semestinya mampu membahasakan kasih sayang Allah di dunia dalam perikehidupan dan perikebangsaan guna terwujudnya tata kelola negara dan bangsa yang bermartabat.
Pertanyaanya, meskipun ajaran Islam menjunjung tinggi terwujudnya negara dan bangsa yang bermartabat, serta nilai Islam mengajarkan prinsip “al-wasilatu ila syain fahuwa syaiun yuradu” yang bermakna “proses dan jalan menuju sesuatu, hukumnya sama dengan sesuatu itu”, artinya jika kemaslahatan bangsa hanya bisa diwujudkan dengan cara memilih pemimpin, maka pemilu sebagai wadah dan cara untuk menentukan pemimpin menjadi wajib hukumnya untuk diselenggarakan, namun masih banyak umat Islam yang memiliki sudut pandang berbeda. Terlebih bagi mereka yang meyakini akan nilai formal sebuah agama. Bahwa negara tanpa formalisasi agama maka tanpanya negara menjadi tidak patut dibela alih-alih diperjuangkan. Umat Islam yang memiliki sudut pandang seperti ini akhir tak acuh terhadap penyelenggaraan demokrasi melalui pemilu yang ada. Pada akhirnya pemilu menjadi sepi peminat, pun pemimpin tidak terpilih dengan selektif dan baik.

Kepemimpinan Lintas Gender

Pada akhirnya ikhtilaf fiqhiyah terkait kepemimpinan perempuan terjawab dengan sendirinya oleh sejarah bahwa sebuah kepemimpinan utamanya kepemimpinan sosial-politik, berpulang pada kualitas personal yang melekat pada diri seorang pemimpin dengan visi dan kepampuan kepemimpinannya, melintasi batasan gender. Misalkan dalam Islam dikenal Ratu Bilqis, di Indonesia Megawati Soekarno Putri pernah menjadi Presiden ke-5, di tingkat Kabupaten/ Walikota ada walikota Surabaya Tri Rismaharini, di Kutai Karta Negara ada Rita Widyasari, dua perempuan yang disebut belakangan bahkan hampir-hampir sulit menemukan calon lawan dalam gelar pemilukada tahun 2015 ini, terbukti di Surabya harus diundur dan diperpanjang masa penerimaan pasangan calon walikota dan wakil walikota Surabaya. Pun, kasus Rita bahkan saat ini masih menantikan bakal pasangan calon yang siap maju menjadi lawannya, karena 2 pasangan semula gugur dalam tahapan verifikasinya.
Sebenarnya, acuan gender dalam perdebatan masalah kepemimpinan ini adalah Q.S An-Nisa ayat 34 “ar-Rijalu qawwamuna alan nisa’....” kaum lelaki adalah pemimpin dari kaum perempuan. Ayat tersebut oleh Quraish Shihab dalam bukunya Membumikan al-Qur’an dimaknai sebagai kepemimpinan dalam keluarga, karena seorang laki-laki secara umum menanggung kewajiban mencari nafkah untuk keluarganya. Demikian juga sebuah hadis yang menerangkan “tidak bahagia suatu kaum yang mengangkat seorang perempuan sebagai pemimpinnya”, dimaknai oleh fatiham al-Marnisi sebagai hadis dengan konteks kualitas bukan biologis. Hingga siapapun pemimpinnya, baik perempuan maupun laki-laki berpulang kembali kepada kualitas personal kenegarawanan yang melekat padanya.

Partisipasi sebagai Kunci

Peran masyarakat untuk menghasilkan pemimpin yang berkualitas pada akhirnya berpulang kembali kepada kesadaran masyarakat akan urgensi memilih seorang pemimpin secara sadar dan cerdas. Dalam hukum Islam, pemilu merupakan wasilah/instrumen politik untuk memilih pemimpin yang mampu menjalankan amanat kepemimpinannya yaitu menyejahterakan masyarakat yang dipimpinannya. Dengan demikian, tujuan pokok dari pemilu adalah lahirnya sosok pemimpin yang mampu menciptakan kemaslahatan hidup rakyatnya. Menurut konstitusi negara Indonesia, Pemilu merupakan instrumen legal untuk memilih pemimpin. Seorang warga negara yang berpartisipasi dalam pemilu dengan memberikan hak suaranya, maka ia telah menegakkan kepemimpinan politik dan menjauhkan dari kevakuman pemerintahan. Berpartisipasi politik dalam pemilu merupakan satu tugas keagamaan dengan memberikan suaranya untuk memilih pemimpin yang berkualitas dan berintegritas.
Kerangka berpikir hukum yang digunakan untuk meletakkan hukum partispasi rakyat dalam pemilu adalah dengan melihat hubungan hukum antara wasilah (instrumen) dengan ghayah (tujuan). Satu tujuan pokok dari pemilu adalah memilih pemimpin politik (ulil amri) untuk terciptanya kemaslahatan hidup yaitu berjalannya hukum agama dan tatanan sosial. Inilah yang disebut dengan the final goal (ghayah). Pemilu berdasarkan konstitusi negara merupakan proses demokrasi untuk memilih ulil amri. Pemilu disebut dengan instrumen/alat (wasilah). Karena mengangkat pemimpin (ulil amri) itu hukumnya wajib, sementara pemilu merupakan instrumen legalnya, maka berpartisipasi dalam pemilu juga hukumnya wajib. Dalam kaidah fikih (islamic legal maxim) disebutkan kewajiban tidak akan berjalan sempurna, tanpa adanya sesuatu yang lain, maka sesuatu itu hukumnya wajib. Terpilihnya pemimpin yang adil untuk tertib sosial adalah tujuan (ghayah), sedangkan pemilu adalah instrumen/alat (wasilah). Hukum wasilah sama dengan hukum ghayah bahkan lebih jelas diterangkan dalam sebuah kaidah fiqh “al-Amru bimaqasidiha” hukum sesuatu berpulang kepada maksud dan tujuannya.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Komisi Fatwa pada tahun 2009 memutuskan beberapa hal pokok terkait dengan pemilu. Pertama, pemilihan umum dalam pandangan Islam adalah upaya untuk memilih pemimpin atau wakil yang memenuhi syarat syarat ideal bagi terwujudnya cita-cita bersama sesuai dengan aspirasi umat dan kepentingan bangsa. Kedua, memilih pemimpin dalam Islam adalah kewajiban untuk menegakkan imamah dan imarah dalam kehidupan bersama. Dengan mendasarkan pada argumen-argumen di atas, kesediaan masyarakat muslim Jawa Tengah untuk menggunakan hak pilihnya adalah bagian dari pelaksanaan perintah agama sekaligus cermin sebagai warga negara yang baik.

Mustatho’, Alumnus UIN Sunan Kalijaga. Saat ini menjadi Dosen tetap STAI Sangatta Kutai Timur, Alamat: Jl. APT. Pranoto No 1 Sangatta Utara Kutai Timur, 75611. email : tatok.m@gmail.com Hp. 081254447281

Tuesday, September 29, 2015

SEMPURNANYA CINTA



Mumtaza Rahma, sebuah nama yang kami pilihkan untuk anak kedua yang lahir dari Rahim Istri tercinta, Dina Makhrita. Mumtaza Rahma sendiri mempunyai arti "sempurnanya cinta (dengan makna ruhani)". Berbeda dengan makna cinta secara biologis, dalam bahasa Arab dikenal dua istilah untuk mengungkapkan cinta, yakni dengan istilah "mawadah" dan "rahmah", sebagaimana dalam adagium yang menjadi tujuan pernikahan yakni untuk membina keluarga yang sakinah mawadah wa rahamah, maka istilah mawadah adalah istilah cinta untuk menggambarkan perlunya hubungan harmonis dan cinta secara biologis dari setiap perikatan pernikahan, namun demikian cinta dan harmonika hubungan biologis ini tidak pernah akan menemukan titik puncak kebahagiaan jika tidak dilandaskan cinta ruhani yang terepresentasi dalam kata "rahmah".

Menurut M. Quraish Shihab kata "rahmah" ini sekaligus sering disandingkan dengan "dzat Tuhan" yakni tergambar melalui sifat "Rahman dan Rahim"Nya Tuhan Allah SWT. Rahman bermakna kasih dan Cinta Tuhan
kepada semua makhluk di dunia, sementara Rahim bermakna Kasih dan Cinta Tuhan Allah kepada manusia di hari Akhir kelak. demikian juga dengan agama Islam kehadiran Islam melalui persona Nabi Muhammad SAW adalah untuk menjadi rahmah dengan makna cinta kasih kepada seluruh alam, hal yang tergambar melalui Al-Qur'an Surat al-Anbiya ayat 107 "Wa ma arsalnaka Illa Rahmatan lil 'alamin", dan tidaklah Aku (Allah) mengutusmu (Muhammad) kecuali untuk kasih bagi semesta alam.

Mumtaza Rahma, anak kedua dari pasangan Mustatho-Dina Makhrita terlahir pada tanggal 2 Oktober 2014 jam 2.30 WITA di RSUD Kudungga Sangatta. Nama Mumtaza Rahma mengandung filosofi sebagaimana yang telah diuraikan di atas. Mumtaza Rahma sendiri adalah ade dari Muna Habibah "Cita-Cita Cinta" yang telah berumur 4 Tahun semenjak dilahirkan pada tanggal 9 Juli 2011 di RS Meloy Sangatta Kutai Timur.

Tuesday, September 16, 2014

CALL FOR WRITING PAPER NOVEMBER 2014

REDAKSI
Jurnal Al-Rabwah Vol VIII. No. 1 dan No 2 Edisi Mei &Nov 2014



Kepada YTH.
Bapak/Ibu Saudara/i
Dosen, Teorisi/Praktisi dan Pemerhati Pendidikan di Kutai Timur dan sekitar
Untuk bersumbang ide/gagasan, serta tulisan pendidikan bagi jurnal tercinta “Al-Rabwah” Edisi Mei & Nov 2014, dengan ketentuan sebagai berikut:
KETENTUAN PENULISAN
JURNAL ILMU PENDIDIKAN AL-RABWAH
STAI SANGATTA KUTAI TIMUR
Penulisan Karya Ilmiah pada Jurnal Al-Rabwah memiliki ketentuan sebagai berikut:
1. Jurnal Ilmu Pendidikan Al-Rabwah adalah jurnal Ilmiah di bidang Pendidikan yang dikelola oleh STAI Sangatta Kutai Timur.
2. Jurnal Ilmu Pendidikan Al-Rabwah terbit berkala 2 kali dalam satu tahun, yakni pada bulan Mei dan November.
3. Jurnal Al-Rabwah berisi antara 7 – 9 tulisan dalam setiap edisinya.
4. Sumber Tulisan Jurnal Al-Rabwah diperoleh dari sumbangan penulis baik praktisi pendidikan, dosen dan teorisi di bidang pendidikan.
5. Tulisan Ilmiah al_rabwah terdiri dari pendahuluan, pembahasan dan penutup. Tulisan berkisar antara 12-20 halaman.
6. Pemuatan tulisan sepenuhnya didasarkan atas persetujuan dewan redaksi melalui rapat unsur pimpinan redaksi.
7. Tulisan yang masuk ke redaksi harus memuat; judul tulisan, nama dan biografi singkat penulis, abstract dalam bahasa asing (Arab/ Inggris) atau bahasa selain dari bahasa penulisan makalah (makalah dengan bahasa Arab bisa memillih abstrak dengan bahasa selain Arab, -Indonesia atau Inggris, dan sebaliknya).
8. Sistematika penulisan berisi: Abstract (1 halaman), Pendahuluan (mak 4 halaman), Pembahasan (mak 13 halaman), penutup (mak 2 halaman).
9. Tulisan diketik dalam kertas ukuran A4, 1,5 spasi, dengan jenis huruf Garamond tebal 12, dan marjin tulisan dengan pola 4-4-3-3.
10. Tulisan dikirim ke redaksi dengan bentuk soft file ke email tatok.m@gmail.com
11. Sistem penulisan rujukan dengan model foot note.
12. Tulisan yang masuk diedit dan disesuaikan oleh redaksi pelaksana dengan tanpa merubah dan mengaburkan subtansi bahasan.
13. Tulisan pada edisi ini kami batasi sampai tanggal 15 Oktober 2014 sampai di meja redaksi al-Rabwah; bagi tulisan yang dimuat berhak mendapatkan 4 eksemplar jurnal yang diterbitkan.

“Kami sambut dengan terbuka apapun kreatifitas dan ide tulisan anda melalui jurnal ini, guna membangun peradaban manusia yang berilmu, mencerahkan dan menggerakkan”.
Salam Hangat seluruh jajaran Redaksi Jurnal Al-Rabwah (Mustathok., dkk.)

Tuesday, March 11, 2014

DOSEN STAI SANGATTA KUTAI TIMUR CALON KOMISIONER KPU

SANGATTA,SuaraKutim.com
Sebanyak 35 orang warga Kutai Timur (Kutim) pagi ini adu kemampuan untuk menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) periode 2014 – 2019. Mereka yang akan merembutkan 5 kursi sebagai wasit Pemilu ini, merupakan hasil seleksi tahap awal yakni administrasi.
Sekretaris Timsel Saiful Ahmad, disela-sela tes tertulis, Sabtu (1/3), menerangkan, peserta ujian tertulis akan diuji seputar pelaksanaan Pemilu termasuk peraturan serta sengketa-sengketa kepemiluan berikut pembuatan makalah.
Dari sederet nama yang akan berlaga, terdapat wajah lama diantaranya Mardianto, Hasbullah, selain itu terdapat kalangan dosen seperti Andi Mursalim dan Mita Sondang Rizki, Mustatho dan Ulfa Jamiatul Farida.
Berdasarkan penelitian berkas, juga ditemukan sejumlah PNS seperti Azis Ali Machmud, Arafah, Abu Samang, Jamil Hakim , Slamet Riyanto serta Supriyanto. Dari kalangan wartawan ada dua orang yakni Joni Sapan Palelleng dan Sayuti Ibrahim.”Juga ada yang berstatus ibu rumah tangga serta wiraswasta,” ungkap pegawai BPMD Kutim ini seraya menegaskan peserta jika terpilih wajib menanggalkan jabatan profesinya selama lima tahun.
Lebih jauh, ia menyebutkan, setelah mengikuti ujian tertulis yang diawasi dua anggota KPU Kaltim yakni Ahmad Rifani dan Doni Muhctar, peserta akan mengikuti tes kesehatan yang dilaksanakan pada Senin (3/3). Sedangkan, tes psikologi dilaksnakan dua hari setelah tes kesehatan. “Pengumuman untuk tes hasil tertulis, tes kesehatan dan tes psikologi akan dilaksanakan pada tanggal enam Maret 2014 mendatang, kemudian Timsel akan meminta tanggapan masyarakat,” Jelas Syaiful seraya menambahkan pengaduan atau laporan masyarakat akan dijamin kerahasiannya meski pelapor wajib menyampaikan data lengkap saat menyampaikan tanggapan.
Dibeberkan, proses penentuan lima besar akan dilakukan setelah peserta mengikuti tes wawancara dan klarifikasi terhadap laporan masyarakat. “Diusahakan pada tanggal delapan Maret sudah ada pengumuman siapa saja yang berhak menjadi anggota KPU,” sebut Syaiful.(SK-01)


SOAL TES TULIS ANGGOTA KPU

TES TULIS CALON ANGGOTA KPU KUTAI TIMUR
Tentang Kebangsaan, Kenegaraan dan Pemilu
1. Salah satu syarat menjadi presiden RI adalah sebagai berikut, kecuali:
a. Menjadi warga negara RI semenjak lahir dan tidak pernah menyandang kewarganegaraan lain selain pemberian.
b. Tidak pernah dihukum penjara yang telah ditetapkan hukumnya dengan kepastian hukum
c. Tidak berkhianat kepada negara
d. Mampu secara jasmani dan rohani menjadi presiden RI
2. Kemunculan partai dalam sebuah pemilu adalah karena?:
a. Sistem negara
b. Sistem pemilu
c. Amanah UUD 1945
d. Keinginan rakyat
3. Adanya Partai Politik mempunyai tujuan?.
a. Mensejahterakan anggotanya
b. Mewujudkan visi dan misi partai
c. Menjadi peserta pemilu
d. Mendapatkan dana APBN dalam keikutsertaannya pada pemilu
4. Antara KPU, KPU provinsi dan KPUD bersifat?.
a. Hirarkis
b. Otonom
c. Campuran
d. Terpisah sama sekali
5. Dalam sistem kenegaraan, antara daerah dan pusat terdapat hubungan?.
a. Otonom
b. sentralisasi
c. Federal
d. Desentralisasi
6. Dalam sistem pemilihan presiden, di Indonesia menggunakan sistem pemilu?.
a. Post past
b. two round system
c. Distrik
d. Sistem proporsional terbuka
7. Penyelenggaran pemilu di tingkat kabupaten adalah?
a. Bawaslu Kabupaten dan KPUD
b. PPK dan PPS
c. KIPP, Bawaslu dan KPUD
d. Semua benar
8. Presiden dan Bupati berkedudukan sama di depan hukum, karena?.
a. Sama-sama dipilih rakyat
b. Tidak bisa diturunkan oleh DPR dan DPRD
c. Sama memiliki daerah kekuasaan
d. Mengepalai daerah dan negara
9. Asas pemilu sesuai dengan UUD 1945 adalah?.
a. Langsung, umum, bebas, rahasia
b. Langsung, umum, bebas, rahasia, profesional dan akuntabel
c. Langsung umum bebas rahasia, jujur dan adil
d. Semua benar
10. Peserta pemilu tahun 2014 di Indonesia adalah?.
a. 13 partai nasional dan 2 partai lokal
b. 12 partai nasional dan 3 partai lokal aceh
c. 15 partai nasional
d. 13 partai nasional
11. Daerah yang memiliki wilayah khusus adalah?
a. Aceh
b. Aceh dan papua
c. DIY dan solo
d. Tidak ada yang benar

Thursday, November 28, 2013

Mengasah Pikir, Pertebal Iman: UTS FIQH SYARIAH JURUSAN EKONOMI SYARIAH

Mengasah Pikir, Pertebal Iman: UTS FIQH SYARIAH JURUSAN EKONOMI SYARIAH Mari Hidup lebih sempurna, indah dengan estetika, cerdas dengan humanitas, dan damai dengan hati; saling berkasih-sayang.

UTS FIQH SYARIAH JURUSAN EKONOMI SYARIAH

UTS FIQIH
KEMENTERIAN AGAMA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) SANGATTA KUTAI TIMUR
JURUSAN SYARIAH


Ujian : UTS 2013/2014
Mata Kuliah : Fiqih
Jurusan : Syari’ah
Semester : 1
Bentuk Ujian : Take Home
Tanggal Penyerahan : Sesuai dengan jadual UAS Fiqh
Kelas : Reguler (A) dan (B), weekend (C, D dan E)
Dosen : MUSTATHO', S.H.I., M.Pd.I



A. Thaharah

Islam merupakan agama yang mencintai kesucian dan kebersihan. Urgensi kesucian dan kebersihan ini semakin nyata dengan sempurnanya ajaran Islam mengenai tata cara bersuci. Bersuci dari hadas kecil dapat dilakukan dengan wudu; sementara bersuci dari hadas besar dapat dilakukan dengan mandi wajib. Pertanyaanya:
a. Cari dan terangkan sejarah disyariatkannya wudu serta filosofi dari wudu itu sendiri; mengingat tidak semua anggota badan adalah anggota wudu.
b. Jelaskan tata cara tayamum dan mandi junub, sertakan niatnya masing-masing!

B. Shalat

Setiap amalan berpulang kembali kepada niatnya. Niatlah yang mempengaruhi kemana arah dan tujuan dari ibadah; tak pelak dalam setiap ibadah niat selalu berada sebagai rukun. Pertanyaanya:
a. Apa fungsi niat dalam ibadah? Di mana letak/tempat niat? Bagaimana hukum mengucapkan niat menerut para ulama?
b. Dalam shalat subuh kita mengetahui kebanyakan ulama memaknai qunut sebagai sunnah ab’ad. Artinya sunnah yang harus diganti dengan sujud sahwi apabila kelupaan mengerjakannya. Pertanyaanya; Bagaimana sejarah timbulnya qunut? Mengapa terjadi perbedaan pendapat seputar qunut subuh? Serta bagaimana kita menyikapi perbedaan tersebut?

C. Puasa

Umat Islam Indonesia tidak pernah sepakat dalam menentukan satu waktu bersama untuk puasa dan lebaran (idul Fitri). Sebagaimana kita ketahui untuk menentukan awal Ramadhan, ada dua cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Pertanyaan:
a. Sebutkan dua cara ini dan dalil masing-masing!
b. Menurut anda di antara dua pendapat tentang awal Ramadhan ini, manakah yang paling mendekati kebenaran?. Sertakan alasan anda!

D. Nikah (Soal tambahan Untuk Kelas Weekend C/D/E)

Menikah adalah syariat Islam pertanyaanya:
a. apa fungsi menikah di dalam kehidupan umat manusia?
b. adakah hubungan antara syariat menikah dan kesehatan?. Tolong jelaskan, terutama kaitannya dengan pencegahan penyakit HIV-AIDS yang diperingati setiap tanggal 1 Desember.

>. SELAMAT MENGERJAKAN!
Jawaban yang sama antar mahasiswa atau ada indikasi sama, tidak akan diberi nilai.

Monday, May 13, 2013

UNDANGAN SEMINAR INTERNASIONAL (CALL FOR PAPERS) AUGUST 2013

Kepada

Ibu/Bapak Pemerhati Politik Lokal di Indonesia

Di tempat



Dengan hormat,



Lembaga Percik akan menyelenggarakan Seminar Internasional ke-14 tentang Dinamika Politik Lokal dengan tema “Dinamika Politik Lokal: Konsolidasi Acuan Transformasi bagi Pengembangan Kepemerintahan Demokratis di Aras Lokal” pada tanggal 27 - 30 Agustus 2013 di Kampoeng Percik Salatiga. Peserta seminar adalah para ilmuwan sosial, peneliti, aktivis LSM, dan pengambil kebijakan pemerintah maupun swasta. Melalui surat ini kami ingin menjajaki kesediaan Ibu/Bapak untuk menjadi pemakalah, khususnya berkenaan salah satu topik seperti tercantum dalam kerangka acuan terlampir.



Apabila berminat Ibu/Bapak dapat menyusun abstrak makalah tentang topik tertentu dan mengirimkannya kepada kami, paling lambat tanggal 31 Mei 2013, ke:

Panitia Seminar Internasional Percik

Kampoeng Percik, Ds. Turusan. Jl. Patimura Km.1. Salatiga 50711

Telepon : 0298-321865

Email : percik@percik.famili.com



Seminar ini menekankan pada sumbangan makalah yang bercorak telaahan teori/wacana dan hasil-hasil penelitian (berupa penelitian teks ataupun penelitian fieldwork).

Lamaran dari peserta yang berupa abstrak ini akan diproses melalui prosedur call for papers. Dari peserta yang abstraksnya lolos seleksi diminta mengirimkan makalah lengkapnya agar paling lambat tanggal 7 Agustus 2013 diterima di Lembaga Percik.



Untuk peserta dari dalam wilayah Indonesia yang telah terseleksi, seluruh transportasi dan akomodasi selama seminar ditanggung oleh panitia.

Kami juga mengharap Ibu/Bapak menyebarkan informasi ini kepada orang-orang yang dapat dipertimbangkan untuk menjadi calon pemakalah.

Sambil menanti tanggapan Ibu/Bapak kami mengucapkan terima kasih.



Teriring salam,

a/n Panitia Pengarah

Dr. Pradjarta Dirdjosanjoto